Jumat, 29 Juni 2012

Islam di Asia Tenggara

A.    Pendahuluan
Islam masuk ke Asia Tenggara disebarluaskan melalui kegiatan kaum pedagang dan para sufi. Hal ini berbeda dengan daerah Islam di Dunia lainnya yang disebarluaskan melalui penaklulan Arab dan Turki. Islam masuk di Asia Tenggara dengan jalan damai, terbuka dan tanpa pemaksaan sehingga Islam sangat mudah diterima masyarakat Asia Tenggara.
Mengenai kedatangan Islam di negara-negara yang ada di Asia Tenggara hampir semuanya didahului oleh interaksi antara masyarakat di wilayah kepulauan dengan para pedagang Arab, India, Bengal, Cina, Gujarat, Iran, Yaman dan Arabia Selatan. Pada abad ke-5 sebelum Masehi Kepulauan Melayu telah menjadi tempat persinggahan para pedagang yang berlayar ke Cina dan mereka telah menjalin hubungan dengan masyarakat sekitar Pesisir. Kondisi semacam inilah yang dimanfaatkan para pedagang Muslim yang singgah untuk menyebarkan Islam pada warga sekitar pesisir.
Asia Tenggara merupakan tempat tinggal bagi penduduk Muslim terbesar di dunia. Islam merupakan agama terbanyak (mayoritas) di Indonesia, Malaysia dan Brunei, dan misoritas Muslim bisa ditemukan di Burma (Myanmar), Singapura, Filiphina, dan Thiland. Kawasan Asia Tenggara secara geografis merupakan tempat yang sangat unik dan menarik bagi perkembangan seluruh agama di dunia, sehingga hampir seluruh agama yang ada di dunia pernah singgah dan mendapat pengaruh di beberapa tempat di kawasan ini, termasuk salah satunya Agama Islam.[1] Bahkan tidak berlebihan bila dikatakan bahwa penduduk Muslim terbesar berada di kawasan Asia Tenggara.
Saat ini misalnya, di Indonesia, 85% dari 241,973,879 jiwa adalah muslim. Di Malaysia terdapat 60.4% dari 23,953,136 jiwa penduduk adalah muslim. Di Brunei, Muslim berjumlah 67% Muslim dari 372,361  jiwa penduduknya. Dan di Singapura juga terdapat 16% beragama Islam dari 4,425,720 jiwa.selain itu, juga masih terdapat orang yang beragama Islam di beberapa negara di asia tenggara lainnya,amtara lain: 5% dari warga Filiphina, 5% dari jumlah penduduk Thailand, 5% di Myanmar dan 1% di Laos.



B.     Kedatangan Islam di Asia Tenggara
Islam masuk ke Asia Tenggara melalui suatu proses jalan damai yang berlangsung berabad-abad lamanya. Dimana penyebarannya terjadi tanpa ada campur tangan politik dan tidak melibatkan militer. Melainkan Islam masuk ke wilayah ini melalui jalur perdagangan, perkawinan, dakwah dan perbaruan masyarakat muslim Arab, Persia dan India dengan masyarakat pribumi.[2]
Masuknya Islam ke berbagai wilayah di Asia Tenggara tidak berada dalam satu waktu yang bersamaaan, melainkan belangsung berabad-abad lamanya, dan tidak merata di seluruh tempat. Banyak peneliti yang mengatakan bahwa Islam telah datang ke Asia Tenggara sejak abad pertama hijrah atau bertepatan pada 7 masehi. Dimana  menjelang akhir perempatan ketiga abad ke-7M seorang pedagang arab menjadi seorang pemimpin di sebuah pemukiman arab muslim di pesisir pantai Sumatera. Sebahagian dari orang-orang arab ini dilaporkan bahwa mereka ini pernah melakukan perkawinan dengan gadis-gadis lokal, sehingga terbentuklah sebuah komunita muslim  yang terdiri dari orang-orang Arab pendatang dan penduduk lokal, dam mereka ini juga melakukan penyebaran Islam.
Azyumardi Azra mengemukakan bahwa Islam di Asia Tenggara pada awalnya diperkenalkan melalui hubungan dagang dan perkawinan. Para pedagang Muslim Arab diyakini menyebarkan Islam sembari melakukan perdagangan diwilayah ini. Para pedagang Muslim tersebut juga melakukan perkawinan dengan wanita lokal. Dengan pembentukan keluarga muslim ini, maka komunita-komunitas muslim-pun terbentuk, yang pada gilirannya memainkan andil yang besar dalam penyebaran Islam. Selanjutnya sebagian dari pedagang ini melakukan perkawinan dengan keluarga para bangsawan lokal sehingga memungkinkan mereka mencapai kekuasaan politik yang dapat digunakan dalam penyebaran Islam.[3]
Namun berbeda dengan pendapat  A.H Jhons, ia meyakini bahwa kecil kemungkinan para pedagang itu berhasil mengislamkan penduduk yang jumlahnya sangat besar secara signifikan. Karena itu ia berpendapat bahwa para sufi pengembaralah yang menyiarkan Islam di kawasan ini (Asia Tenggara).  Para sufi berhasil mengislamkan sejumlah besar penduduk  Asia Tenggara setidaknya abad ke-13M, sehingga pengaruh islam kelihatan lebih nyata. Hal ini disebabkan oleh karena para sufi tersebut menyampaikan Islam dengan cara yang menarik, antara lain dengan menekankan kesesuaian dan kontinuitas antara budaya dan praktik keagamaan lokal dengan Islam ketimbang melihat perbedaan  dan perubahan dalam kepercayaan dan praktik keagamaan. Para sufi ini juga menguasai ilmu magis dan memiliki kekuatan untuk menyembuhkan.
Selain itu mengapa Islam dapat diterima dengan mudah sebagai agama, antara lain  karena islam mengajarkan toleransi  dan persamaan derajat diantara sesama, sementara ajaran Hindu menekankan pebedaan derajat manusia. Sehingga ajaran Islam ini sangat menarik perhatian penduduk lokal.[4]




C.     Pertautan Islam Dan Budaya Lokal
Islam di dunia Melayu  (Asia Tenggara) diakui sebagai salah satu wilayah kebudayaan  yang ada di dunia. Enam kebudayaan Islam lainnya adalah wilayah kebudayaan Islam Arab, Islam Persia, Islam Turki dengan beberapa wilayah strategis  di Eropa Timur seperti Bosnia, Kosovo dan daerah sekitarnya, Islam Afrika, Islam anak Benua India, an terakhir adalah wilayah peradaban islam yang disebut sebagai wilayah kebudayaan Islam di dunia barat.[5]
Dari masing-masing kebudayaan ini meskipun sama-sama berbendera Islam, Asia Tenggara menurut Azra, mempunyai ciri yang sangat berbeda. Artinya, bahwa masing-masing wilayah kebudayaan mempunyai ciri khas tersendiri. Dari sinilah kita bisa membedakan antara kebudayaan islam di Arab dengan kebudayaan Islam di Dunia Melayu. Begiti juga dengan kebudayaan islam Turki atau Rusia yang mempunyai karakter dan perbedaan masing-masing yang cukup jelas.
Di Asia Tenggara, mayoritas pemeluk agama Islam adalah Etnis Melayu. Agama islam dan budaya melayu mempunyai pertalian yang sangat terkait-padu. Sejak priode paling awal, antara keduanya telah lama saling terpadu. Agama islam yang mempunyai dasar filosofis dan rasional yang kuat, telah berpadu di kehidupan masyarakat melayu tradisional. Islam bagi orang melayu bukan hanya sekedar agama atau keyakinan, tetapi juga telah menjadi identitas dan dasar kebudayaan, serta mewarnai institusi kenegaraan dan pandangan politik mereka. Dengan kata lain,islam telah menjadi bagian yang menyatu dengan identitas nesional, sejarah, hukum, etnis politik dan kebudayaan melayu. Oleh karena itu tidak mengherankan bila Islam dianggap sebagai komponen utama kebudayaan melayu, yang mana agama islam dan budaya melayu sudah sehati dan senyawa dalam kehidupan dan keseharian orang-orang melayu di Asia Tenggara.
Namun demikian, perlu ditekankan disini bahwa  transformasi masyarakat tradisional melayu ke dalam kehidupan yang lebih bernuansa islam tidaklah terjadi secara revolusioner, melainkan secara bertahap sesuai dengan sifat islamisasi yang berlangsung di Dunia Melayu.

D.    Watak dan Karakteristik Islam Asia Tenggara
Beberapa hasil studi menegaskan bahwa Islam Asia Tenggara memiliki watak dan karakteristik yang khas, yang berbeda dengan watak islam di kawasan lain, khususnya di Timur Tengah yang merupakan jantung dunia muslim. Hal ini disebabkan oleh adanya proses adaptasi dengan kondisi lokal  sehingga membentuk dinamika Islam  Asia Tenggara yang khas, yang membedakannya dengan islam di Timur Tengah.
Menurut Azyumardi, penyebaran Islam di Asia Tenggara berbeda dengan ekspansi Islam di banyak wilayah Timur Tengah, Asia Selatan dan Afrika yang mana di daerah ini  dalam prektiknya sering melibatkan militer.
Karakteristik islam Asia Tenggara lainnya adalah wataknya yang moderat. Dalam dunia dimana pandangan dinia telah memaknai  islam tidak cocok dengan modernisasi dan demokrasi, akan tetapi asia tenggara justru memperlihatkan sosok islam yang moderat. Hal ini tercermin dari gerakan pemikiran muslim di kawasan ini yang terbuka terhadap modernisasi.
Sejak pasca perang dunia kedua, Asia Tenggara mulai dianggap salah satu kawasan yang terpenting di dunia. Selain karena posisi geografis  yang strategis juga memperlihatkan dinamika kebudayaan yang khas, perkembangan ekonomi yang cepat dan gejolak politiknya yang sangat dinamis.




[1] Dardiri, Helmiati,dkk., Sejarah Islam Asia Tenggara, (Pekanbaru, kerjasama ISAIS dan Alaf Baru, 2006), hal. 53.
[2] Dr. Hemiati, M.Ag, Sinamika Islam Asia Tenggara, (Pekanbaru: suska press, 2008), hal. 3
[3] Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara, Melacak Akar-Akar pembahruan Islam di Indonesia, (Bandung: Mizan, 1994), hal. 31
[4] Ibid, Dr. Hemiati, M.Ag, hal. 7
[5] Azyumardi Azra, Renaisans Islam Asia Tenggara: Sejarah Wacana dan Kekuasaan, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1999), hal. 20

0 komentar:

Poskan Komentar